Selasa, 26 Mei 2020
"Cukup Jangan Berlebihan"
Perubahan tampaknya menjadi sebuah keharusan bagi setiap individu. Cepat atau lambat, mau tidak mau, perubahan itu pasti terjadi. Anak kecil tidak selamanya ia akan menjadi anak kecil terus. Secara bertahap ia akan mengalami perubahan. Mulai dari pertumbuhan fisiknya sampai dengan perkembangan psikis. Artinya perubahan menjadi sebuah realitas yang harus kita akui dan terima.
Sudah sering juga kita mendengar kalimat mutiara " dibalik kejadian pasti ada hikmahnya". Kalimat yang secara serentak kita akui kebenarannya. Apalagi sebagai manusia yang percaya akan adanya Tuhan, hal ini harus menjadi prinsip keimanan. Memercayai bahwa semua kejadian di dunia ini merupakan buah hasil dari kekuasaan Tuhan. Dan sebagai manusia kita harus meyakini Tuhan itu Maha kuasa. Mayoritas pemeluk agama pun mengimani bahwa Tuhan tidak akan mengingkari janji-janjinya.
Disaat bersamaan Tuhan juga memerintah kita, untuk menyikapi setiap peristiwa dengan selayaknya. Tidak kurang dan tidak lebih. Harus seimbang dalam menyikapi sesuatu hal yang terjadi. Namun, banyak dari kita justru tidak mengindahka hal tersebut. Semua peristiwa yang baru diketahui selalu dilebih-lebihkan. Seakan-akan tidak ada celah untuk memunculkan harapan. Muncul peristiwa A panik, muncul peristiwa B tambah panik, dan seperti ini terus siklus yang tejadi. Kepanikan merupakan kegagalan diri dalam menerima tantangan/ sesuatu yang baru dalam hidup. Atau bisa menjadi sebuah indikasi ketidaksiapan kita dalam menjalankan roda kehidupan yang terus berputar.
Belajarlah untuk menerima realitas yang terjadi. Jangan selalu monoton dengan kenyamanan. Terkadang kenyamanan itulah yang membelenggu kita untuk menerima realitas yang terjadi. Gak semua di dunia ini sesuai dengan apa yang kita harapkan. Bahkan terkadang di beberapa kesempatan kita harus mengalah dengan keadaan.
Sesuatu yang kita lakukan secara berlebihan itu gak baik. Makan berlebihan gak baik, olahraga berlebihan gak baik, bahkan ibadah berlebihan tanpa memikirkan dunia pun gak baik. Lakukanlah sesuatu dengan prinsip "cukup jangan berlebihan". MaknaCukup masing-masing individu memiliki sifat yang relatif. Artinya tolak ukur "Cukup" tiap individu berbeda-beda. Tidak bisa kita sama ratakan.
Melakukan dan menerima setiap hal dengan "cukup", maka hidup yang kita jalani akan terasa efektif. Semua sudah dilakukan dengan pas dan tidak berlebihan. Mau makan ada nasi sama lauk. Mau pergi ada motor, ya meski pun hanya motor bebek. Mau jajan ada uang. Ada corona ya berarti kita yang harus hidup bersih. Ya kira-kira se simpel inilah jika sebuah peristiwa kita sikapi dengan prinsip"cukup jangan berlebihan".
Beda kepala beda prinsip. Tiap individu punya penilaian tersendiri tentang sesuatu hal. Ya misal seperti pandemi covid 19 ini. Ada kelompok yang menanggapi dengan sederhana dan ada pula kelompok yang menanggapi hal ini sebagai bentuk bencana. Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa covid 19 merupakan akhir dari hidup manusia.
Tiap orang boleh punya prinsip hidup yang berbeda. Tetapi disaat seperti ini, membangun optimisme adalah salah satu jalan terbaik yang bisa kita lakukan. Soal gotong royong, negara ini ahlinya. Karena memang negeri ini bangun dengan landasan gotong royong. Tiap rakyatnya punya andil besar dalam membangun bangsa dan negara. Nah, semangat gotong royong inilah yang harus kita gaungkan ke seluruh penjuru negeri. Hentikan berita-berita yang memunculkan keresahan di masyarakat. Mari bangun semangat baru untuk menjadi manusia normal yang baru (the new normal).
Kamis, 21 Mei 2020
"Kebutuhan diatas Keinginan; Part 2"
Pada waktu tertentu kita pasti dihadapkan pada sebuah kedilemaan. Tentang sesuatu yang rasanya sulit untik di pilih. Banyak petimbangan yang harus diputuskan sesegera mungkin. Karena memang batas waktu yang singkat sehingga tidak memungkinkan lagi untuk berpikir lama. Pikiran kita dituntut untuk berpikir kritis, menimbang semua aspek agar tak menimbulkan penyesalan dikemudian hari. Meski pada akhirnya terkadang logika dan nurani kita kalah dengan hawa nafsu yang terus menyala.
Rasa ingin sesuatu selalu disebabkan oleh hawa nafsu. Dorongan dari dalam diri meminta manusia untuk mengutamakan apa yang diinginkan. Bukan meminta untuk mempriotaskan kebutuhan. Padahal secara riil, kebutuhan jauh lebih penting daripada keinginan. Ya tapi mau bagaimana lagi, pertempuran batin selalu dimenangkan nafsu. Sedangkan logika selalu terbelakang dan kalah. Barulah, ketika sadar kita mengetahui keinginan hanya membuai kita diawal dan selalu menutup nurani dan logika kala itu.
Jika kita bebicara tentang diri sendiri rasanya sulit untuk jujur. Kadang kita sering membohongi diri sendiri. Misal ketika situasi seperti saat ini. Himbauan dari berbagai pihak untuk tetap di rumah nyata nya kita langgar. Seakan-akan aturan di buat untuk di langgar. Ya hal ini hberlaku juga buat penulis. Protokol kesehatan bak tulisan yang hanya sekadar dibaca. Bukan untuk dipahami dan dijalankan. Jika berbicara fakta dilapangan, jauh sebelum Covid 19 datang memang masyarakat kita sudah di kenal dengan 'kengeyelannya'. Contoh sederhana nya buang sampah. Sudah berapa ribu himbauan, sudah berapa ratus tulisan dibuat untuk mengingatkan masyarakat 'jangan buang sampah sembarangan '. Tapi apa hasil yang didapat? Tetap saja sampah berserakkan dimana-dimana.
Nafsu yang ada, sebenarnya memiliki peran yang penting. Peran yang terus mendorong manusianya untuk terus berusaha mendapatkan sesuatu. Hal itu akan sangat baik apabila kita mengarahkannya kearah yang positif. Namun, jika kita membawanya kearah yang negatif maka itu akan jadi malapetaka yang menyakitkan.
Banyak kasus covid 19 disebabkan oleh nafsu yang tidak baik. Nafsu yang hanya memikirkan kebahagian sesaat tanpa memikirkan hal apa yang akan terjadi kedepannya. Dorong-dorongan yang ada, itu hanya keinginan yang sesat. Banyak dari kita berdalih bahwa itu semua demi kebutuhan. Padahal jika dikalkulasikan, lebih banyak keinginan yang kita belanjakan, ketimbang kebutuhan yang jelas-jelas kita butuhkan. Walaupun tiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda -beda. Artinya semua keputusan ada ditangan kita.
Rasa ingin sesuatu selalu disebabkan oleh hawa nafsu. Dorongan dari dalam diri meminta manusia untuk mengutamakan apa yang diinginkan. Bukan meminta untuk mempriotaskan kebutuhan. Padahal secara riil, kebutuhan jauh lebih penting daripada keinginan. Ya tapi mau bagaimana lagi, pertempuran batin selalu dimenangkan nafsu. Sedangkan logika selalu terbelakang dan kalah. Barulah, ketika sadar kita mengetahui keinginan hanya membuai kita diawal dan selalu menutup nurani dan logika kala itu.
Jika kita bebicara tentang diri sendiri rasanya sulit untuk jujur. Kadang kita sering membohongi diri sendiri. Misal ketika situasi seperti saat ini. Himbauan dari berbagai pihak untuk tetap di rumah nyata nya kita langgar. Seakan-akan aturan di buat untuk di langgar. Ya hal ini hberlaku juga buat penulis. Protokol kesehatan bak tulisan yang hanya sekadar dibaca. Bukan untuk dipahami dan dijalankan. Jika berbicara fakta dilapangan, jauh sebelum Covid 19 datang memang masyarakat kita sudah di kenal dengan 'kengeyelannya'. Contoh sederhana nya buang sampah. Sudah berapa ribu himbauan, sudah berapa ratus tulisan dibuat untuk mengingatkan masyarakat 'jangan buang sampah sembarangan '. Tapi apa hasil yang didapat? Tetap saja sampah berserakkan dimana-dimana.
Nafsu yang ada, sebenarnya memiliki peran yang penting. Peran yang terus mendorong manusianya untuk terus berusaha mendapatkan sesuatu. Hal itu akan sangat baik apabila kita mengarahkannya kearah yang positif. Namun, jika kita membawanya kearah yang negatif maka itu akan jadi malapetaka yang menyakitkan.
Banyak kasus covid 19 disebabkan oleh nafsu yang tidak baik. Nafsu yang hanya memikirkan kebahagian sesaat tanpa memikirkan hal apa yang akan terjadi kedepannya. Dorong-dorongan yang ada, itu hanya keinginan yang sesat. Banyak dari kita berdalih bahwa itu semua demi kebutuhan. Padahal jika dikalkulasikan, lebih banyak keinginan yang kita belanjakan, ketimbang kebutuhan yang jelas-jelas kita butuhkan. Walaupun tiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda -beda. Artinya semua keputusan ada ditangan kita.
Kalau kita menginginkan Covid 19 ini cepat berlalu maka ikutilah aturan yang berlaku. Jangan gadaikan kesehatan orang -orang sekitar kita dengan sesuatu yang kita inginkan.
Berpikirlah lebih dalam. Cobalah bertanya pada diri sendiri, Apa yang akan terjadi kalau saya melakukan itu?, bagaimana keluarga saya?, dan bagaimana masa depan saya?. Ya pertanyaan-pertanyaan seperti itu setidakanya membuat kita berpikir dua kali sebelum bertindak.
Berpikirlah lebih dalam. Cobalah bertanya pada diri sendiri, Apa yang akan terjadi kalau saya melakukan itu?, bagaimana keluarga saya?, dan bagaimana masa depan saya?. Ya pertanyaan-pertanyaan seperti itu setidakanya membuat kita berpikir dua kali sebelum bertindak.
Kebutuhan haruslah menjadi prioritas kita. Dimana pun dan kapan pun. Mengalahlah sedikit, jangan kalah dengan keinginan. Keinginan jika terus diupayakan tidak akan ada habisnya. Hari ini udah beli sepeda, besok mau beli motor. Besok udah beli motor, lusa mau beli mobil. Dan begitulah seterusnya. Terus bertambah dan terus bertambah.
Lain hal nya jika kita mengutamakan kebutuhan. Aku butuh motor untuk sekolah/bekerja. Jika sudah berkomitmen maka godaan sebesar apapun akan mampu dilewati. Mau ada mobil mewah --semewah apapun kalau hanya butuh motor ya gak akan tergoda. Hal tersebut menandakan, jika kita fokus hanya pada apa yang dibutuhkan maka hidup kita akan tercukupi.
Agama pun pernah menyampaikan " Bahwa Tuhan telah mencukupkan apa yang kita butuhkan untuk hidup. Namun yang membuat hidup ini berat adalah banyaknya keinginan dari kita sendiri". Oleh karena itu, orientasi hidup adalah tentang bagaimana kita mampu memprioritaskan apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan. Keinginan tidak akan ada habisnya, ia akan terus bertambah dan bertambah dari waktu ke waktu. Jagalah keinginan dengan terus bersyukur dan rendahkanlah hati kepada siapa pun.
Terus berusaha dan berdoa semoga pandemi cepat berlalu.
Selasa, 19 Mei 2020
"Bangun Optimisme bukan Egoisme; Corona Pasti Berlalu "
Ironi memang melihat situasi saat ini. Dalam upaya mencegah dan memutus mata rantai covid 19, masih ada saja sebagian dari kita mementingkan ego nya sendiri . Ya mungkin hal ini berlalu juga buat penulis.
Hari-hari sebelum corona datang, kita bisa hidup normal seperti biasanya. Lalu-lalang manusia yang sibuk dengan urusan nya sendiri terus ada setiap hari nya. Tidak ada jaga jarak, tidak ada pake masker, dan tidak ada larangan untuk berkumpul kala itu adalah hal yang biasa. Tapi sekarang, hal itulah yang kita rindukan saat ini. Betul saja apa yang dikatakan kyai ternama. Dalam sebuah ceramah nya ia pernah mengatakan bahwa ujian terberat manusia adalah "rindu". Ya saat ini kita betul-betul merindukan masa itu. Masa sebelum covid 19 datang.
Namun apa boleh buat, takdir membawa kita untuk menghadapi Covid-19. Wabah yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dengan segala kekurangan yang kita miliki, suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus hadapi ini. Keterbatasan pasti ada. Tapi optimisme jangan sampai hilang. Karena ini tinggal menunggu waktu saja, cepat atau lambat Covid 19 pasti bisa kita lewati.
Membangun optimisme bukan berarti mengabaikan aturan yang sudah dibuat. Jangan menggunakan prasangka untuk mencari sebuah pembenaran. "Ah kumpul di cafe sebentar gapapa lah". "ah Nongkrong di tempat biasa mah gak ada virus". Ya hal-hal kecil seperti ini lah yang justru membuat situasi kian rumit. Cobalah untuk menahan diri. Kendalikan ego sejenak saja. Setidaknya sampai pandemi ini membaik. Selepas ini berlalu, silakan kita kembali kekesibukkan kita masing-masing . Kembali menjadi manusia yang baru. Manusia yang lulus dari rintangan Corona.
Pengalaman, pengetahuan, dan perasaan yang kita dapatkan dari situasi ini kita jadikan evaluasi kedepannya. Evaluasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang lebih mengutamakan kebersihan, baik kebersihan hati maupun kebersihan diri.
Egoisme tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Toh Keputusan yang baik pun diambil dari hasil musyawarah bersama. Bukan hasil dari pemikiran individualis.
Bangun optimisme ditengah pandemi itu baik. Tapi jangan pernah kaitkan optimisme dengan egoisme karena keduanya adalah hal yang saling bertolak belakang. Optimisme adalah keyakinan yang disertai dengan usaha. Sedangkan egoisme adalah sesuatu keyakinan tanpa usaha. Dalam kata lain egoisme ini adalah sifat ngeyel kita, yang ga mau diatur tapi senang ngatur orang.
Bersama kita terus bangun optimisme ditengah pandemi ini. Karena sejatinya harapan itu masih ada, tinggal bagaimana cara kita untuk mencapai harapan tersebut . Satu-satunya cara adalah berusaha menahan diri dan ego kita masing-masing untuk tidak melakukan hal -hal yang tidak penting. Patuhi aturan yang ada, dan biasakan hidup bersih dan sehat.
Teknologi secanggih apapun tidak akan mampu menghadirkan rasa yang sama. Rasa ketika kita bersapa langsung dengan orang-orang yang kita cintai. Tapi untuk saat ini bersabarlah. Seperti petuah-petuah lama bilang "badai pasti berlalu ". Begitu pun dengan corona, cepat atau lambat "corona pasti berlalu. Terus Berusaha dan selalu berdoa semoga wabah ini cepat berlalu.
Rabu, 08 April 2020
Yowis Manut Wae lah.
Situasi sulit seperti ini menjadi dilema bagi semua. Kalangan atas, menengah, dan bawah merasakan dampak yang sama. Yang membedakan hanyalah cara menanggapi dan memperlakukan diri menghadapi situasi sulit ini. Ada yang galau setengah mati karena gak bisa kemana-mana. Mau ke mall, mall nya ditutup. Mau jalan ke tempat wisata, tempat nya ditutup. Atau mau pergi ke tempat ibadah pun juga terbatas. Ya inilah kedilemaan saat ini.
Disaat orang-orang berusaha membatasi diri dari aktivitas di luar rumah, ternyata masih banyak sebagian dari kita yang harus berjibaku mengais rezeki. Buat mereka tidak ada yang lebih berbahaya daripada keluarganya tidak makan sama sekali. Semua risiko mereka ambil. Tak peduli virus atau bahaya apa yang mengancam mereka. Buat mereka tanggung jawab adalah hal yang diprioritaskan. Teruntuk mereka yang harus bekerja teriring doa "semoga rezeki hari ini dan seterusnya memberi berkah buat semua".
Sedangkan yang lain, tanpa harus keluar rumah masih dapat bekerja di rumah. Tetapi bekerja di rumah bukan berarti tak menimbulkan dilema. Jelas, konsekuensi yang harus diambil adalah kejenuhan dan tinggi nya rasa bosan. Terbisa dengan sosialisasi tinggi dengan orang banyak, sekarang harus dipaksa mengisolasi diri di rumah. Rasanya apa? BOSAN.
Tapi kedilemaan ini harus kita hadapi sama-sama. Himbauan pemerintah pusat dan daerah sudah sepatutnya kita ikuti. Jangan merasa angkuh atas himbauan yang telah disampaikan. Karena itu semua demi kebaikan bersama. Saat ini kita harus realistis menghadapi pandemi dunia ini. Jangan kerjakan sesuatu yang tak penting. Tahan diri sementara waktu. Manfaatkan situasi ini untuk berkumpul dengan keluarga. Anggap saja ini sebagai momen kumpul bersama keluarga. Apapun yang terjadi ikuti saja alurnya. Kalau kata orang jawab " Yowis manut wae lah" (yaudah ngikut aja deh).
Toh nantinya kita sama-sama bisa ambil hikmah dari kejadian hari ini. Tuhan punya rencana yang tidak diketahui manusia. Lalu kalaupun ini adalah hasil buatan manusia, ya kita doakan saja semoga mereka-mereka yang terlibat bisa mendapat ganjaran yang setimpal.
Buat kaum ngopi, situasi ini sama sekali tidak mengganggu. Malah ngopi makin terasa nikmat karena bisa berbicara dengan diri sendiri. Berbicara tentang masa lalu yang sudah dilewati dan berbicara tentang masa depan yang akan dihadapi. Dan buat kaum jomblo situasi ini sudah sangat familiar, karena mereka terbiasa sendiri. Jadi gak ngaruh sama sekali. hahaha.
Nanti kita ceritakan tentang hari ini. Hari dimana rebahan menjadi solusi terbaik menyelamatkan dunia. Cerita tentang pelajaran hidup yang berarti. Memberi makna bahwa manusia dan semesta harus selalu bekerjasama
membangun ekosistem kehidupan yang baik. Keseimbangan itu harus kita kembalikkan. Meskipun sedikit, setidaknya kita sudah berusaha untuk memperbaiki semeseta. Bagaimana nanti nya, serahkan saja pada yang Maha Kuasa, karena Tuhan punya cerita yang indah diakhir nanti.
X : "Saat ini Jangan aneh-aneh ya".
Y: "Yowis Manut Wae lah".
Aku, kamu, dan kita memang terpisah oleh jarak. Tapi percayalah jarak memberi kita waktu untuk memahami rindu. Dan diakhir nanti kita akan berkata bahwa "iya Tuhan sekarang aku paham bahwa rindu itu indah dan aku mengerti bahwa rencanmu adalah yang terbaik, terima kasih Tuhan". (mata berbinar indah berselimut senyum merona memandang senja nan elok di ujung barat).
Disaat orang-orang berusaha membatasi diri dari aktivitas di luar rumah, ternyata masih banyak sebagian dari kita yang harus berjibaku mengais rezeki. Buat mereka tidak ada yang lebih berbahaya daripada keluarganya tidak makan sama sekali. Semua risiko mereka ambil. Tak peduli virus atau bahaya apa yang mengancam mereka. Buat mereka tanggung jawab adalah hal yang diprioritaskan. Teruntuk mereka yang harus bekerja teriring doa "semoga rezeki hari ini dan seterusnya memberi berkah buat semua".
Sedangkan yang lain, tanpa harus keluar rumah masih dapat bekerja di rumah. Tetapi bekerja di rumah bukan berarti tak menimbulkan dilema. Jelas, konsekuensi yang harus diambil adalah kejenuhan dan tinggi nya rasa bosan. Terbisa dengan sosialisasi tinggi dengan orang banyak, sekarang harus dipaksa mengisolasi diri di rumah. Rasanya apa? BOSAN.
Tapi kedilemaan ini harus kita hadapi sama-sama. Himbauan pemerintah pusat dan daerah sudah sepatutnya kita ikuti. Jangan merasa angkuh atas himbauan yang telah disampaikan. Karena itu semua demi kebaikan bersama. Saat ini kita harus realistis menghadapi pandemi dunia ini. Jangan kerjakan sesuatu yang tak penting. Tahan diri sementara waktu. Manfaatkan situasi ini untuk berkumpul dengan keluarga. Anggap saja ini sebagai momen kumpul bersama keluarga. Apapun yang terjadi ikuti saja alurnya. Kalau kata orang jawab " Yowis manut wae lah" (yaudah ngikut aja deh).
Toh nantinya kita sama-sama bisa ambil hikmah dari kejadian hari ini. Tuhan punya rencana yang tidak diketahui manusia. Lalu kalaupun ini adalah hasil buatan manusia, ya kita doakan saja semoga mereka-mereka yang terlibat bisa mendapat ganjaran yang setimpal.
Buat kaum ngopi, situasi ini sama sekali tidak mengganggu. Malah ngopi makin terasa nikmat karena bisa berbicara dengan diri sendiri. Berbicara tentang masa lalu yang sudah dilewati dan berbicara tentang masa depan yang akan dihadapi. Dan buat kaum jomblo situasi ini sudah sangat familiar, karena mereka terbiasa sendiri. Jadi gak ngaruh sama sekali. hahaha.
Nanti kita ceritakan tentang hari ini. Hari dimana rebahan menjadi solusi terbaik menyelamatkan dunia. Cerita tentang pelajaran hidup yang berarti. Memberi makna bahwa manusia dan semesta harus selalu bekerjasama
membangun ekosistem kehidupan yang baik. Keseimbangan itu harus kita kembalikkan. Meskipun sedikit, setidaknya kita sudah berusaha untuk memperbaiki semeseta. Bagaimana nanti nya, serahkan saja pada yang Maha Kuasa, karena Tuhan punya cerita yang indah diakhir nanti.
X : "Saat ini Jangan aneh-aneh ya".
Y: "Yowis Manut Wae lah".
Aku, kamu, dan kita memang terpisah oleh jarak. Tapi percayalah jarak memberi kita waktu untuk memahami rindu. Dan diakhir nanti kita akan berkata bahwa "iya Tuhan sekarang aku paham bahwa rindu itu indah dan aku mengerti bahwa rencanmu adalah yang terbaik, terima kasih Tuhan". (mata berbinar indah berselimut senyum merona memandang senja nan elok di ujung barat).
Senin, 30 Maret 2020
Jangan Tambah Coretan
Sungguh menjadi sebuah ironi, ketika sesuatu yang kita sama-sama tahu itu buruk malah kita tambah buruk lagi. Kesalahan orang yang salah kita tambah dengan cara membagikan lagi kesalahan tersebut lewat media sosial. Tak cukup sampai disitu. Obrolan dengan tetangga dan kerabat pun masih membahas kesalahan tersebut. Ya jadi seolah olah ga ada celah untuk ga ngomongin orang. Hmm ya begitulah kita.
Situasi saat ini kita sama-sama sedang berusaha melawan wabah corona. Tapi di sisi lain ada beberapa pihak yang ambil kesempatan. Pihak yang iseng. Pihak yang ingin membuat situasi semakin keruh. Ibarat kalau di kertas bersih ada coretan sedikit, sama nih orang malah ditambah coretan nya. Bukannya di hapus tapi malah memperparah coretan.
Kondisi ini kita yakini di luar dari kendali kita. Mau kaya mau miskin merasakan situasi yang sama. Takut, khawatir, dan cemas menjadi perasaan yang sedang kita rasakan saat ini. Tak luput juga, beban terberat dengan situasi seperti ini adalah rasa bosan yang terus bertambah dari hari ke hari.
Nah dengan kondisi -kondisi seperti ini, sebenarnya kita bisa sedikit membantu mengurangi kecemasan. Yaitu dengan memberikan sesuatu yang positif, motivatif, dan menghibur. Optimisme harus tetap ada dalam diri kita Karena senjata terbaik ada di dalam diri. Dan optimisme adalah pelecutnya.
Sudah jangan membicarakan sesuatu yang sifatnya masih berandai -andai. Yang berlalu biarlah berlalu. Tak semua hal dapat kita kendalikan. Kekayaan se kaya apapun toh pada faktanya tidak dapat mencegah virus ini datang. Artinya, ini semua sudah menjadi kehendak Tuhan. Biarlah Tuhan yang mengatur . Jangan ambil jatah Tuhan. Ini yang kadang belum kita pahami. Sering ambil jatah yang bukan menjadi hak kita.
Dalam agama pun sudah disampaikan bahwa Tuhan lah yang mengatur seluruh alam semesta beserta kejadian -kejadiannya. Jadi kita jangan jadi orang yang sok tau, kemudian menghukum Tuhan. Dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak baik, Tuhan tidak adil dan lain sebagianya. Sudah hentikan semua dusta dan kebodohan kita ini.
Sekarang yang terpenting adalah kita sama-sama membatasi diri. Membatasi kegiatan sosial dan sebisa mungkin untuk tetap di rumah aja. Memang situasi ini membosankan. Tapi ini adalah cara terbaik dan termudah yang bisa kita lakukan untuk melawan penyebaran virus corona.
Sudahi semua cacian dan makian kita kepada para pemimpin. Lupakan semua urusan poltik. Bersatu dan saling menguatkan satu sama lain bisa memperbaiki situasi. Setidaknya psikologi kita tidak terserang penyakit akibat dari dampak virus corona.
Ingat manusia memiliki batas kemampuan. Batas yang tidak bisa kita elakkan lagi. Ketika batas itu sulit untuk di lalui, maka bersujud dan menengadah tangan sembari berdoa adalah cara terbaik. Stop kebencian, stop cacian, bersama kita lawan corona. "Sesungguhnya Tuhan tidak akan memberikan sebuah ujian, melewati batas kemampuan hamba-hamba Nya".
Sekian.
#Stayathome
#dirumahaja
#bersamakitakuat
Situasi saat ini kita sama-sama sedang berusaha melawan wabah corona. Tapi di sisi lain ada beberapa pihak yang ambil kesempatan. Pihak yang iseng. Pihak yang ingin membuat situasi semakin keruh. Ibarat kalau di kertas bersih ada coretan sedikit, sama nih orang malah ditambah coretan nya. Bukannya di hapus tapi malah memperparah coretan.
Kondisi ini kita yakini di luar dari kendali kita. Mau kaya mau miskin merasakan situasi yang sama. Takut, khawatir, dan cemas menjadi perasaan yang sedang kita rasakan saat ini. Tak luput juga, beban terberat dengan situasi seperti ini adalah rasa bosan yang terus bertambah dari hari ke hari.
Nah dengan kondisi -kondisi seperti ini, sebenarnya kita bisa sedikit membantu mengurangi kecemasan. Yaitu dengan memberikan sesuatu yang positif, motivatif, dan menghibur. Optimisme harus tetap ada dalam diri kita Karena senjata terbaik ada di dalam diri. Dan optimisme adalah pelecutnya.
Sudah jangan membicarakan sesuatu yang sifatnya masih berandai -andai. Yang berlalu biarlah berlalu. Tak semua hal dapat kita kendalikan. Kekayaan se kaya apapun toh pada faktanya tidak dapat mencegah virus ini datang. Artinya, ini semua sudah menjadi kehendak Tuhan. Biarlah Tuhan yang mengatur . Jangan ambil jatah Tuhan. Ini yang kadang belum kita pahami. Sering ambil jatah yang bukan menjadi hak kita.
Dalam agama pun sudah disampaikan bahwa Tuhan lah yang mengatur seluruh alam semesta beserta kejadian -kejadiannya. Jadi kita jangan jadi orang yang sok tau, kemudian menghukum Tuhan. Dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak baik, Tuhan tidak adil dan lain sebagianya. Sudah hentikan semua dusta dan kebodohan kita ini.
Sekarang yang terpenting adalah kita sama-sama membatasi diri. Membatasi kegiatan sosial dan sebisa mungkin untuk tetap di rumah aja. Memang situasi ini membosankan. Tapi ini adalah cara terbaik dan termudah yang bisa kita lakukan untuk melawan penyebaran virus corona.
Sudahi semua cacian dan makian kita kepada para pemimpin. Lupakan semua urusan poltik. Bersatu dan saling menguatkan satu sama lain bisa memperbaiki situasi. Setidaknya psikologi kita tidak terserang penyakit akibat dari dampak virus corona.
Ingat manusia memiliki batas kemampuan. Batas yang tidak bisa kita elakkan lagi. Ketika batas itu sulit untuk di lalui, maka bersujud dan menengadah tangan sembari berdoa adalah cara terbaik. Stop kebencian, stop cacian, bersama kita lawan corona. "Sesungguhnya Tuhan tidak akan memberikan sebuah ujian, melewati batas kemampuan hamba-hamba Nya".
Sekian.
#Stayathome
#dirumahaja
#bersamakitakuat
Minggu, 01 Maret 2020
Sisi Lain Bad Mood
Disaat-saat tertentu terkadang kita pernah merenung tentang diri kita. Tentang sudah sampai mana pencapaian hidup yang kita jalani. Sudahkah sesuai atau masih ada yang perlu dicapai lagi. Biasa perenungan itu terjadi ketika jiwa kita berada pada level down atau menurun. Level dimana kita jenuh dengan semua aktivitas yang kita jalani. Penurunan seperti ini biasa kita sebut dengan bad mood.
Bagi kaum hawa penurunan jiwa bisa disebabkan oleh faktor menstruasi. Sedangkan pada pria disebabkan oleh tingkat strees yang tinggi. Jika hal ini terjadi, rasa-rasanya dunia ini tak lagi indah. Teman terasa seperti musuh. Makan dan minum pun jadi tidak enak. Ya seperti itulah sedikit gambaran mengenai hal yang terjadi ketika kita sedang bad mood.
Hal seperti ini pada hakikatnya merupakan hal yang lumrah. Karena harus kita akui juga, bahwa kita bukanlah mahluk super yang bisa mengerjakan sesuatu selalu sempurna. Kadang kala ada saatnya kita melakukan keteledoran dan kesalahan. Baik di sengaja maupun tidak di sengaja. Ya hal seperti itu masih bersifat manusiawi.
Namun, ada sebagian dari kita yang keliru dalam mengatasi hal ini. Tingkat stress yang sudah parah menyebabkan depresi. Depresi yang terjadi pada seseorang bisa saja mengancam nyawa orang tersebut. Kejadian tewasnya orang karena faktor depresi pun cukup banyak. Penyebabnya pun macam-macam, mulai dari faktor putus dari kekasih sampai pada faktor ekonomi. Depresi merupakan hasil dari kegagalan diri dalam mengolah tekanan. Tekanan yang muncul tidak disertai dengan tindakkan yang nyata.
Sedangkan bagi yang bisa mengolah tekanan dengan baik, maka penurunan perasaan ini bisa dijadikan sebagai alat introspeksi diri. Merenung tentang semua hal dari diri kita. Berusaha menerima kenyataan dan menerima diri. Jujur pada diri sendiri dan orang lain. Serta berdamai dengan kehidupan. Menyadari bahwa hidup tak selamanya bahagia, dan tidak pula selamanya bersedih. Semua sudah digariskan oleh yang Maha Kuasa. Bersyukur ketika sedang mendapatkan kenikmatan. Sabar dan tidak menghina Tuhan ketika sedang di rundung kesedihan. Mendekatkan diri kepadaNya, baik dalam keadaan senang maupun sedih bisa menjadi solusi terbaik. Tujuannya agar kita dapat terus mengingat bahwa kita ini bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa di dunia ini.
Bad mood adalah sebuah hal yang wajar dan manusiawi. Hal yang tak wajar adalah jika kita terus menyalahkan keadaan. Terus menyalahkan kehidupan tanpa pernah mau berdamai dengan kehidupan. Maka dari itu jangan pernah berharap kebahagian akan datang pada kita selama kita terus-terusan menyalahkan kehidupan. Berdamai dengan diri dan jujur pada diri sendiri menjadi jalan mendapatkan kebahagian. Ini semua tentang cara kita berdamai dan bersyukur terhadap kehidupan yang kita jalani. Kunci kehidupan berada di dalam diri kita masing- masing, yakni hati. Maka dari itu jagalah hati dari penyakit hati.
sekian...
terima kasih
Bagi kaum hawa penurunan jiwa bisa disebabkan oleh faktor menstruasi. Sedangkan pada pria disebabkan oleh tingkat strees yang tinggi. Jika hal ini terjadi, rasa-rasanya dunia ini tak lagi indah. Teman terasa seperti musuh. Makan dan minum pun jadi tidak enak. Ya seperti itulah sedikit gambaran mengenai hal yang terjadi ketika kita sedang bad mood.
Hal seperti ini pada hakikatnya merupakan hal yang lumrah. Karena harus kita akui juga, bahwa kita bukanlah mahluk super yang bisa mengerjakan sesuatu selalu sempurna. Kadang kala ada saatnya kita melakukan keteledoran dan kesalahan. Baik di sengaja maupun tidak di sengaja. Ya hal seperti itu masih bersifat manusiawi.
Namun, ada sebagian dari kita yang keliru dalam mengatasi hal ini. Tingkat stress yang sudah parah menyebabkan depresi. Depresi yang terjadi pada seseorang bisa saja mengancam nyawa orang tersebut. Kejadian tewasnya orang karena faktor depresi pun cukup banyak. Penyebabnya pun macam-macam, mulai dari faktor putus dari kekasih sampai pada faktor ekonomi. Depresi merupakan hasil dari kegagalan diri dalam mengolah tekanan. Tekanan yang muncul tidak disertai dengan tindakkan yang nyata.
Sedangkan bagi yang bisa mengolah tekanan dengan baik, maka penurunan perasaan ini bisa dijadikan sebagai alat introspeksi diri. Merenung tentang semua hal dari diri kita. Berusaha menerima kenyataan dan menerima diri. Jujur pada diri sendiri dan orang lain. Serta berdamai dengan kehidupan. Menyadari bahwa hidup tak selamanya bahagia, dan tidak pula selamanya bersedih. Semua sudah digariskan oleh yang Maha Kuasa. Bersyukur ketika sedang mendapatkan kenikmatan. Sabar dan tidak menghina Tuhan ketika sedang di rundung kesedihan. Mendekatkan diri kepadaNya, baik dalam keadaan senang maupun sedih bisa menjadi solusi terbaik. Tujuannya agar kita dapat terus mengingat bahwa kita ini bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa di dunia ini.
Bad mood adalah sebuah hal yang wajar dan manusiawi. Hal yang tak wajar adalah jika kita terus menyalahkan keadaan. Terus menyalahkan kehidupan tanpa pernah mau berdamai dengan kehidupan. Maka dari itu jangan pernah berharap kebahagian akan datang pada kita selama kita terus-terusan menyalahkan kehidupan. Berdamai dengan diri dan jujur pada diri sendiri menjadi jalan mendapatkan kebahagian. Ini semua tentang cara kita berdamai dan bersyukur terhadap kehidupan yang kita jalani. Kunci kehidupan berada di dalam diri kita masing- masing, yakni hati. Maka dari itu jagalah hati dari penyakit hati.
sekian...
terima kasih
Minggu, 23 Februari 2020
Baik Belum Tentu Baik
Berbicara mengenai negeri ini memang tidak akan ada habisnya. Segudang problematika terus dihadapi oleh bangsa yang kita cintai ini. Pro dan kontra selalu menyelimuti permasalahan yang ada. Dan hal itu tak perlu kita naifkan. Memang faktanya sekarang bangsa ini sedang dihadapkan pada permasalahan yang vital. Yaitu karakter anak-anak bangsa.
Beberapa hari yang lalu kita mendapat kabar tentang Perundungan yang masih sering terjadi. Kemudian guru yang tak lagi dihormati. Dan orang tua yang tidak lagi dihargai. Jangan berbicara kemajuan jika karakter anak bangsanya mirip seperti kaum yang ugal-ugalan. Berbuat sesuka mereka tanpa memikirkan kedepannya bagaimana.
Penanam sejak dini harus intens dilakukan. Mengembalikan tradisi lama yang berfilosofi tinggi bisa jadi alternatif. Sebagai bentuk upaya memperbaiki karakter. Hal itu dimulai dari lingkungan keluarga. Peran ayah dan ibu sangatlah penting dalam membentuk karakter anaknya. Apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh orang tua nya pasti akan membekas dalam benak si anak. Bahkan sampai si anak itu tumbuh dewasa rasa-rasanya hal tersebut juga akan membekas pada diri si anak.
Sudah banyak orang tau bahwa negara ini di bangun atas azas persatuan dan persaudaraan. Beradasarkan hal itulah kita harus selalu menjaga persatuan dan persaudaraan antar sesama manusia. Terlebih kita adalah saudara sebangsa dan setanah air.
Penanaman pehaman tentang berdemokrasi menjadi sorotan yang harus dioptimalkan. Bagaimana tidak? Akhir-akhir ini kita di landa krisis demokrasi. Kritik-kritik yang di bangun tidak lagi mengedepankan persaudaraan. Tetapi malah sebaliknya, lebih mengedepankan ego dan kepentingan masing-masing. Oleh karenanya, penanaman demokrasi itu penting untuk hidup bersosial dan bernegara.
Di awal tadi penulis menyampaikan bahwa bangsa ini memiliki segudang permasalahan. Salah satu permasalahan nya adalah masyarakat saat ini gampang terprovokasi. Provokasi itu lahir dan muncul tanpa sebab yang jelas. Tentu saja tujuan nya adalah menghancurkan persastuan dan persaudaraan. Saling sindir satu dengan yang lain sudah menjadi hal yang biasa untuk saat ini. Memang bagi orang dewasa hal ini tidak berdampak besar. Tapi bagi generasi berikutnya hal ini sangatlah berarti dan bermakna .
Mereka akan merekam semua kejadian yang terjadi dan mencatat semua cara menyelesaikan masalah tersebut. Apabila cara yang diajarkan atau dipraktikan itu baik maka itu tidak jadi masalah. Namun jika cara yang dicontohkan malah membuat masalah yang baru lagi, maka hal itulah yang berbahaya.
Dalam tiap putusan yang diambil oleh pihak otoritas pasti akan menimbulkan gejolak pro dan kontra. Kita jangan bicarakan negara yang ruang lingkup nya sangat luas. Coba kita bicarakan lingkup keluarga. Terkadang seorang ayah akan memberikan sebuah peraturan tertentu kepada semua anggota keluarga nya. Tapi pasti ada saja pihak yang tidak setuju atau bahkan menolak peraturan tersebut. Anggaplah ada anak yang di beri aturan untuk memperbaiki mainannya sendiri yang rusak. Pasti pihak si anak akan beranggapan bahwa ayahnya tidak sayang dengan dia. Tetapi lain halnya dengan anggapan ayahnya. Ayahnya melakukan hal tersebut demi kebaikan anaknya. Agar anaknya bisa menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.
Ya gambaran tersebut sebenarnya mirip dengan kehidupan yang sedang kita jalani ini. Pemerintah pusat memberikan aturan seperti ini, kemudian karena ini adalah perintah dari pemimpin mau tidak mau, suka tidak suka harus dilakukan. Hal tersebut dilakukan oleh pemerintah, bisa jadi punya tujuan yang baik (insha allah). Karena keterbatasan ilmu terkadang kita berlaku seenaknya. Hal itulah yang membedakan antara kaum terpelajar dengan kaum tak berpendidikan.
Dengan demikian, maka semua problematika yang akan kita hadapi bisa diselesaikan dengan baik. Tanpa ada pertumpahan darah lagi. Pemangku otoritas memang punya kuasa dan hak nya sendiri. Tapi hal yang perlu diingat ialah jangan gegabah dalam berucap, bertindak, dan bertingkah laku. Karena apa yang kita pikirkan baik, belum tentu baik di mata orang lain.
Beberapa hari yang lalu kita mendapat kabar tentang Perundungan yang masih sering terjadi. Kemudian guru yang tak lagi dihormati. Dan orang tua yang tidak lagi dihargai. Jangan berbicara kemajuan jika karakter anak bangsanya mirip seperti kaum yang ugal-ugalan. Berbuat sesuka mereka tanpa memikirkan kedepannya bagaimana.
Penanam sejak dini harus intens dilakukan. Mengembalikan tradisi lama yang berfilosofi tinggi bisa jadi alternatif. Sebagai bentuk upaya memperbaiki karakter. Hal itu dimulai dari lingkungan keluarga. Peran ayah dan ibu sangatlah penting dalam membentuk karakter anaknya. Apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh orang tua nya pasti akan membekas dalam benak si anak. Bahkan sampai si anak itu tumbuh dewasa rasa-rasanya hal tersebut juga akan membekas pada diri si anak.
Sudah banyak orang tau bahwa negara ini di bangun atas azas persatuan dan persaudaraan. Beradasarkan hal itulah kita harus selalu menjaga persatuan dan persaudaraan antar sesama manusia. Terlebih kita adalah saudara sebangsa dan setanah air.
Penanaman pehaman tentang berdemokrasi menjadi sorotan yang harus dioptimalkan. Bagaimana tidak? Akhir-akhir ini kita di landa krisis demokrasi. Kritik-kritik yang di bangun tidak lagi mengedepankan persaudaraan. Tetapi malah sebaliknya, lebih mengedepankan ego dan kepentingan masing-masing. Oleh karenanya, penanaman demokrasi itu penting untuk hidup bersosial dan bernegara.
Di awal tadi penulis menyampaikan bahwa bangsa ini memiliki segudang permasalahan. Salah satu permasalahan nya adalah masyarakat saat ini gampang terprovokasi. Provokasi itu lahir dan muncul tanpa sebab yang jelas. Tentu saja tujuan nya adalah menghancurkan persastuan dan persaudaraan. Saling sindir satu dengan yang lain sudah menjadi hal yang biasa untuk saat ini. Memang bagi orang dewasa hal ini tidak berdampak besar. Tapi bagi generasi berikutnya hal ini sangatlah berarti dan bermakna .
Mereka akan merekam semua kejadian yang terjadi dan mencatat semua cara menyelesaikan masalah tersebut. Apabila cara yang diajarkan atau dipraktikan itu baik maka itu tidak jadi masalah. Namun jika cara yang dicontohkan malah membuat masalah yang baru lagi, maka hal itulah yang berbahaya.
Dalam tiap putusan yang diambil oleh pihak otoritas pasti akan menimbulkan gejolak pro dan kontra. Kita jangan bicarakan negara yang ruang lingkup nya sangat luas. Coba kita bicarakan lingkup keluarga. Terkadang seorang ayah akan memberikan sebuah peraturan tertentu kepada semua anggota keluarga nya. Tapi pasti ada saja pihak yang tidak setuju atau bahkan menolak peraturan tersebut. Anggaplah ada anak yang di beri aturan untuk memperbaiki mainannya sendiri yang rusak. Pasti pihak si anak akan beranggapan bahwa ayahnya tidak sayang dengan dia. Tetapi lain halnya dengan anggapan ayahnya. Ayahnya melakukan hal tersebut demi kebaikan anaknya. Agar anaknya bisa menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.
Ya gambaran tersebut sebenarnya mirip dengan kehidupan yang sedang kita jalani ini. Pemerintah pusat memberikan aturan seperti ini, kemudian karena ini adalah perintah dari pemimpin mau tidak mau, suka tidak suka harus dilakukan. Hal tersebut dilakukan oleh pemerintah, bisa jadi punya tujuan yang baik (insha allah). Karena keterbatasan ilmu terkadang kita berlaku seenaknya. Hal itulah yang membedakan antara kaum terpelajar dengan kaum tak berpendidikan.
Dengan demikian, maka semua problematika yang akan kita hadapi bisa diselesaikan dengan baik. Tanpa ada pertumpahan darah lagi. Pemangku otoritas memang punya kuasa dan hak nya sendiri. Tapi hal yang perlu diingat ialah jangan gegabah dalam berucap, bertindak, dan bertingkah laku. Karena apa yang kita pikirkan baik, belum tentu baik di mata orang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)
